Kamis, 16 Februari 2012

legends of rock buyong


                                 MYSTERY STONE BUYONG

AMONG some of the existing attractions on the island of Billiton, one of which is often visited by local tourists are Buyung Stone. A tourist attraction in the area at the tip of the South Island Pacific Islands. Located about 110 kilometers from Tanjungpandan, these attractions can be achieved using two-and four-wheeled vehicles.

 Excess of these attractions are a stone the size of a badminton hall which looks rather unique. That is, like a stone that was on a rock digeletakkan other flat. Apart from being a tourist, area attractions Buyong Stone is also recognized the community as a place that has a magical feel strong enough. Until people often come to Stone Buyong to vow, such as asking for something like a tail number and the like.

Number of people who make Stone Buyong as a vow, not apart from the story behind the existence and origins of the Stone Buyong itself. Which is said only a small stone about the size of the baby's head (buyong, ed.) Derived from the kingdom of Majapahit.

It is said, in a mission extension of its territory, a small fleet of the Kingdom of Majapahit see a 'scorched' strange. Looks like a 'burning', but the view from the sea is very beautiful. Hirst was fascinated by the beauty, all in unison crew stopped work. They chose to enjoy the beauty of the 'burnt' rather than doing the work. However, despite having the opportunity, they did not dare to burn the land directly.

Hirst was amazed by the beauty, the crew of the Kingdom of Majapahit as feeling just came to an uninhabited island alone. But, based on experiences in other islands, they feel confident that the 'burn' that there must be inhabitants of this beautiful. With confidence tersebutlah then they took a brief stop to simply relax while enjoying the beautiful 'burnt' is. Arriving in the land of Java, immediately he led a small fleet report to the King. Telling the island they find that are considered odd and full of mystery. The king received such a report was necessary to immediately respond. Short meeting was held to decide whether the island will be marked as belonging to the Majapahit. In the end the King was instructed to hulubalangnya to make a mark in the form of a stone that is made of "stone kitchen '(rounded clay, usually used to create a kitchen fire at houses in the village, at the head-baby pitcher, ed.) .

Thus commander was instructed to prepare a full kitchen with stone long rope chain as a 'binder' island of Java. After all the equipment ready for the second group was headed for the mysterious island earlier. However, in contrast to the group

previously, this time a member of the group far more than the group that discovered the first time. Long story short after the group had arrived at last the mysterious island, they immediately put the stone in place Buyong today. Buyong of stone that are then tied the chain to get to the island of Java. Once the task is completed, and even then separate the two groups. One group with enough members to return to Java. While a small portion remained to supervise while keeping the island was taken not to others. The guard is what is said still to inhabit the area where the stone was placed. To 'beliau'lah people ask something for convenience worldly.

Currently the stone pitcher had been no such condition was first brought from the land of Java, which is only about the size of the baby's head. But it has been enlarged to the size of a badminton court. However, the bizarre, where the stone is just like a pitcher who does digeletakkan stone upon a stone the other flat. In the opinion of half a person, if the stone is pushed rollicking he would tergeer into the ocean. But for now it is considered uninhabited rock, then people no longer dare to prove it. Another opinion also said that, the inhabitants of the Rock Buyung there are currently three people. Namely Bujang Tanggok (Malay / Muslim); Taopekong Figure Drift (China / Khong Hu Cu), and accelerator Lightning In Cloud (White / Christian).

Another opinion also states that, the demand for 'something' to this Buyong Stone keeper will be granted after the requester to the hermitage of a very severe test. At first thrown into the mountain hermit king, then by inhabitants of the Rock King returned to the Stone Buyung. Throw throw it happened seven times repeatedly. Well, if the hermit had passed this first test, then the hermit would be thrown into a charred, scorched named interspace, to be tested is magical. Once a monk made it through this last test, then what is wanted and delivered before the hermit will be granted. Indeed, so far there's no telling how many hermit who granted his request. However, most of society still believe that, the stone which was originally only sekepala sized baby and has turned into a badminton court for it, still guarded by troops sent by the King of Majapahit invaded the island of Billiton, seem to be haunted.



MISTERI BATU BUYONG
DI ANTARA beberapa obyek wisata yang ada di Pulau Belitung, salah satu yang sering dikunjungi wisatawan lokal adalah Batu Buyung. Sebuah obyek wisata  yang berada di daerah paling ujung di Selatan Pulau Belitung. Terletak sekitar 110 kilometer dari Tanjungpandan, obyek wisata ini bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat.   
 Kelebihan obyek wisata ini adalah sebuah batu seukuran lapangan bulutangkis yang terlihat agak unik. Yaitu, seperti sebuah batu yang memang digeletakkan di atas sebuah batu datar lainnya.   Selain sebagai tempat wisata, kawasan obyek wisata Batu Buyong ini juga dikenali masyrakat sebagai tempat yang memiliki nuansa magis cukup kuat. Hingga kerapkali orang-orang mendatangi Batu Buyong untuk bernazar, semisal meminta sesuatu seperti nomor buntut dan sejenisnya.    
Banyaknya masyarakat yang menjadikan Batu Buyong sebagai tempat bernazar, tak terlepas dari cerita dibalik keberadaan dan asal usul Batu Buyong itu sendiri. Yang konon kabarnya hanya sebuah batu kecil seukuran kepala bayi (buyong, red.) yang berasal dari Kerajaan Majapahit.   
Dikisahkan, dalam satu misi perluasan wilayahnya, satu armada kecil dari Kerajaan Majapahit melihat sebuah ‘gosong’ yang aneh. Tampak seperti ‘gosong’, tapi pemandangan dari laut sangatlah indah. Terpesona dengan keindahan gosong tersebut, serempak semua awak perahu menghentikan pekerjaannya. Mereka memilih menikmati keindahan ‘gosong’ tersebut daripada melakukan pekerjaan.    Namun demikian, kendati memiliki kesempatan, mereka tak berani langsung mendarat ke gosong tersebut.
Takjub dengan keindahan gosong tersebut, para awak perahu dari Kerajaan Majapahit seperti merasakan hanya mendatangi sebuah pulau tak berpenghuni saja. Tapi, berdasarkan pengalaman di pulau-pulau lain, mereka merasa yakin bahwa ‘gosong’ yang indah ini pasti ada penghuninya. Dengan keyakinan tersebutlah kemudian mereka menyempatkan diri singgah sebentar untuk sekadar beristirahat sambil menikmati indahnya ‘gosong’ tersebut.   Sesampainya di tanah Jawa, pimpinan armada kecil itupun segera melapor kepada Raja. Menceritakan pulau yang mereka temukan yang dianggap ganjil dan penuh misteri ini. Mendapat laporan demikian Raja merasa perlu untuk segera menanggapinya. Pertemuan singkat pun digelar untuk memutuskan apakah pulau tersebut akan diberi tanda sebagai milik Majapahit. Di akhir pertemuan Raja pun menginstruksikan kepada hulubalangnya untuk membuat sebuah tanda berupa sebuah batu yang dibuat dari ‘batu dapur’ (tanah liat yang dibulatkan, biasanya digunakan untuk membuat dapur api di rumah-rumah di kampung, sebesar kepala buyung –bayi, red.).
Mendapat instruksi demikian hulubalang pun segera menyiapkan sebuah batu dapur lengkap dengan tali rantai yang panjang sebagai ‘pengikat’ pulau tersebut dari Pulau Jawa.   Setelah semua perlengkapan siap rombongan kedua pun berangkat menuju ke pulau misterius tadi. Namun, berbeda dengan rombongan
sebelumnya, kali ini anggota rombongan jauh lebih banyak dari rombongan yang menemukan pertama kali. Singkat cerita setelah rombongan tadi sampai di pulau misterius tadi, mereka segera meletakkan Batu Buyong di tempatnya sekarang ini. Dari batu Buyong itu pula lalu diikatkan rantai hingga sampai ke Pulau Jawa. Setelah tugas tersebut selesai, rombongan itupun terpisah dua. Satu rombongan dengan anggota cukup banyak kembali ke Jawa. Sedangkan sebagian kecil tetap tinggal tersebut untuk mengawasi sekaligus menjaga pulau tersebut agar tidak diambil orang lain. Penjaga inilah yang konon kabarnya masih menghuni daerah dimana batu tersebut diletakkan. Kepada ‘beliau’lah orang-orang minta sesuatu untuk kemudahan-kemudahan yang bersifat duniawi.   
Saat ini batu buyung tadi sudah tidak seperti keadaannya pertama kali dibawa dari tanah Jawa, yang hanya seukuran kepala bayi. Tapi sudah membesar hingga menjadi seukuran lapangan bulutangkis. Namun, yang aneh bin ajaib, letak batu buyung ini persis seperti sebuah batu yang memang digeletakkan di atas sebuah batu datar lainnya.    Menurut pendapat setengah orang, jika batu ini didorong beramai-ramai ia akan tergeer ke lautan. Tetapi karena sekarang sudah dianggap batu berpenghuni, maka orang tak berani lagi membuktikannya. Pendapat lain juga mengatakan bahwa, penghuni Batu Buyung saat ini ada tiga orang. Yaitu Bujang Tanggok (Melayu/Islam); Taopekong Gambar Melayang (Cina/Khong Hu Cu); dan Penderas Kilat Di Awan (Kulit Putih/Kristen).   
Pendapat lain juga menyebutkan bahwa, permintaan ‘sesuatu’ kepada penunggu Batu Buyong ini akan bisa dikabulkan setelah si peminta melakukan satu pertapaan yang sangat berat ujiannya. Mula-mula pertapa dilemparkan ke Gunung Baginda, lalu oleh penghuni Gunung Batu Baginda dikembalikan ke Batu Buyung. Lempar melempar itu terjadi sebanyak tujuh kali secara berulang-ulang. Nah, jika di pertapa berhasil melewati ujian pertama ini, maka si pertapa akan dilemparkan ke sebuah gosong, bernama GOSONG PARAK, untuk diuji secara magis. Setelah seorang pertapa berhasil melewati ujian terakhir ini, barulah apa yang diinginkan dan disampaikan pertapa sebelumnya akan dikabulkan.   Memang sejauh ini tak ada yang menceritakan sudah berapa banyak pertapa yang dikabulkan permintaannya. Namun, sebagian masyrakat tetap yakin bahwa, batu yang semula hanya berukuran sekepala bayi itu dan telah berubah menjadi sebesar lapangan bulutangkis itu, tetap dijaga oleh pasukan yang dikirim oleh Raja Majapahit ketika menguasai pulau Belitung, hingga jadi terkesan angker.   

Minggu, 12 Februari 2012

TERABITHIA SYNONYM

Jess Aaron, seorang anak keluarga miskin, yang tinggal di tepi hutan kecil. Dia berambisi ingin menjadi pelari tercepat di sekolah. Jess punya 4 orang saudara perempuan, 2 kakaknya yang selalu berisik, adiknya Maybelle yang memujanya, dan si bayi. Jess juga sangat suka melukis.

Di hari pertama sekolah, di kelasnya masuk seorang murid baru, perempuan pula, bernama Leslie. Penampilan Leslie lumayan urakan, untuk ukuran sekolah Jess. Lalu di waktu istirahat, anak-anak berkumpul untuk lomba lari, Leslie ingin bergabung. Suatu hal yang tak pernah dilakukan anak perempuan sebelumnya, selama ini, lomba lari waktu jam istirahat itu adalah milik anak laki-laki. Dan ternyata, Leslie berhasil mengalahkan semua anak laki-laki itu.

Ternyata, Leslie tinggal di dekat rumah Jess. Dan sejak itu mereka bersahabat. Dua anak kesepian yang menemukan teman. Leslie mengajari Jess untuk menggunakan imajinasinya dalam bermain. Mereka menemukan sebuah tempat di hutan dekat tempat tinggal mereka, tempat yang harus mereka capai melewati sebuah kali kecil, dan kebetulan mereka juga menemukan seutas tambang tergantung, yang mereka gunakan sebagai ayunan untuk menyeberangi kali tersebut.

Di tempat itu, mereka juga menemukan rongsokan mobil, dan akhirnya membuat rumah pohon sebagai markas kerajaan mereka, kerajaan Terabithia.

Persahabatan mereka terjalin sangat erat. Jess dan Leslie selalu saling membantu di sekolah, mereka anak-anak yang tak populer sama sekali, tak punya banyak teman. Sementara itu, Jess juga tertarik pada guru musik mereka yang masih muda dan cantik.

Hingga suatu hari sang guru mengajak Jess ke museum. Dan di hari itulah musibah itu terjadi.

Ternyata Leslie nekat sendirian ke tempat bermain mereka, dan karena hujan yang deras, air sungai naik tinggi, dan Leslie terjatuh sewaktu mau menyeberang. Leslie meninggal tenggelam terbawa arus.

Jess, sepulang dari berjalan-jalan ke museum, menemukan keluarganya sedang berduka, yang menyangka dirinya juga ikut bersama Leslie, dan belum ditemukan. Mendengar berita itu, Jess sangat marah. Dan akhirnya menyalahkan dirinya karena tak mengajak Leslie ke museum.

Namun kesedihan Jess akhirnya diobati karena Maybelle, adik kesayangannya, yang selalu memujanya. Jess pun akhirnya membawa Maybelle memasuki Terabithia, menjadi putri penguasa wilayah fantatis peninggalan Leslie.


Sabtu, 21 Januari 2012

a good video


marc marquez


Marc Márquez lahir di Spanyol 17 Februari 1993. dia mengawali debut pertamanya sebagai pembalap kelas 125cc pada tahun 2008. podium pertama nya dia peroleh pada saat balapan berlangsung di Donington Park, Inggris. dan sekaligus menjadi orang termuda Spanyol (15 tahun dan 127 hari) untuk mendapatkan podium, mengalahkan Rekor yang Dibuat oleh Dani Pedrosa. Pada tahun 2009 ia menjadi pembalap termuda Spanyol yang mendapat posisi pole pada Grand Prix Prancis (16 tahun dan 89 hari). Dan untuk pertama kalinya menang tahun 2010 di sirkuit Mugello, Italia. Pemilik nomor motor 93 ini juga merupakan calon juara dunia 125cc yang diunggulkan pada musim 2010 ini.